• (021) 5507205

logo

PERMASALAHAN KOAPGI & WAWANCARA DENGAN KETUA KOAPGI

LAPORAN

Permasalahan KOAPGI & Wawancara dengan Ketua KOAPGI
Koapgi, salah satu koperasi yang membawa nama besar Garuda Indonesia, sedang dililit masalah serius. Tantangan justru datang dari para “senior” atau pendiri Koapgi sendiri.

DI awal bulan suci Ramadhan lalu, ada kejadian aneh di dalam bis antar jemput karyawan PT Garuda Indonesia. Di setiap kursi dibagikan selebaran yang isinya intinya adalah menuduh pengurus Koperasi Awak Pesawat Garuda Indonesia (Koapgi) melakukan banyak pelanggaran serius. Selebaran itu ada yang menadatanganinya. Yaitu pengawas Koapgi sendiri. Lho, ada apa gerangan?

Disamping selebaran, pesan singkat atau SMS melalui handphone juga bertebaran ditujukan kepada anggota Koapgi yang sejak berdiri koperasi ini pada 2001 hingga sekarang sudah dihuni hampir lima ribu anggota. Isi sms, garis besarnya juga menyudutkan pengurus saat ini, yang dinilai “cacat hukum” serta “melanggar” banyak aturan yang tertuang dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi.

Rimond B. Sukandi, Ketua Koapgi yang baru terpilih sejak Mei 2014, di akhir tahun, tiba-tiba dihadang sebuah masalah besar. Konon adanya teguran dari rekanan salah satu perbankan Koapgi yang menyebutkan bahwa kepengurusannya tidak sesuai dengan aturan yang tertuang dalam AD/ART. Karena dalam aturan tersebut, disebutkan, ketua harus dalam kondisi masih karyawan aktif Garuda Indonesia atau setidaknya tiga tahun sebelum memasuki masa pensiun. Sementara Rimond, pada Mei 2015, sudah harus pensiun dari profesinya sebagai Awak Kabin. Pemicu Masalah

Saat info tentang pengurus Koapgi harus masih berstatus sebagai karyawan tetap perusahaan minimal tiga tahun sebelum memasuki pensiun, spontan Rimond tertegun. Tentu kaget. Tetapi ia sadar, bahwa dirinya memang berada dalam posisi serba salah. Karena kesadarannya itulah – dan juga berkonsultasi dengan jajaran pengurus dan pengawas – lalu memutuskan untuk mundur saja. Lalu, apakah ini menyelesaikan masalah?

Masalah ini bermuara memang dari penafsiran sejumlah pihak tentang adanya keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah kembali landasan hukum sebuah koperasi yang semula berada dalam UU No 17 Tahun 2012 menjadi UU No 25 Tahun 1992. Kementerian Koperasi melakukan perubahan tersebut tentunya ada yang melatarbelakanginya, karena ini akan berdampak bagi perkembangan koperasi secara nasional. Tidak hanya untuk Koapgi.

Salah satu alasan perubahan UU tersebut adalah semangatnya sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip dasar koperasi yang lebih mengedepankan asas “kekeluargaan dan gotongroyong”, seperti yang tertuang dalam nafas UUD 1945. Karena kembali ke UU yang sebelumnya, maka dampaknya juga ke AD/ART di setiap tubuh koperasi seperti Koapgi. Dalam ART pasal 26 ayat 5 sesuai dengan UU 25/1992, disebutkan bahwa pengurus koperasi masih berstatus karyawan tetap. Atau jika ingin pensiun, setidaknya masih ada waktu masa kerja minimal tiga tahun di tempat ia bekerja.

Pasal inilah yang menghadang kepengurusan Koapgi di bawah kepemimpinan Rimond. Sebagai seorang warga negara Indonesia yang baik dan taat hukum, Rimond sangat menyadari posisinya yang salah. Ia segera melakukan rapat internal dan melapor kepada Badan Pengawas Koapgi. Hasilnya, ya kepengurusannya harus segera diakhiri dan memilih pengurus baru. Pada 17 Februari 2015, Rapat Dewan Pengawas akhirnya memutuskan pengurus Koapgi yang baru, di mana terpilih Asep W. Adhyana selaku Ketua, didampingi Sekretaris oleh Asram Suari dan Bendahara oleh Sofyan Lesmana. Nama Asep sebelumnya di era kepemimpinan Rimond tercatat sebagai Bendahara, bersama Koesadar Wirasantika sebagai Sekretaris. Selesaikah masalah kepengurusan Koapgi sampai di sini? Ternyata tidak. Bahkan cenderung menjadi benang kusut yang berujung tidak menentu. Anggotanya banyak yang tidak paham apa yang terjadi sebenarnya di tubuh koperasi yang pernah memperoleh predikat terbaik dari Kementerian Koperasi beberapa waktu lalu.

Pelajaran Berharga
Karena semenjak pengurus baru dipilih pada Februari hingga tiga bulan kedepan perjalanan Koapgi kian terseok-seok, dan bahkan muncul berbagai selebaran atau informasi yang isinya menyudutkan pihak tertentu, akhirnya diputuskan untuk menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk menentukan nasib Koapgi kedepan. Pada RAT 28 Mei 2015 yang dihadiri lebih seratus anggota di gedung serbaguna Garuda Maitenance Facility (GMF), Bandara Soetta, Cengkareng, berbagai pandangan pun bertebaran mengevaluasi kinerja Koapgi. Mulai dari pandangan pimpinan yang baru seumur jagung di bawah Acep dkk, era sebelumnya (Rimond dkk), serta pengawas yang tetap dikomandoi oleh Away A. Waluya. Bahkan, dari pihak luar, seperti Dinas Koperasi dan UKM Pemkot Tangerang juga diundang agar rapat ini berjalan lebih transparan dan adil.

RAT yang dipimpin oleh Capt. Iwan Setiawan berjalan cukup alot dan panjang. Bayangkan saja, mulai dari jam 9 pagi hingga magrib baru selesai. Berbeda dengan RAT tahun lalu yang memilih Rimond sebagai ketua hanya berlangsung kurang dari dua jam. Tapi bisa dimaklumi kali ini, karena agenda yang dibahas sangat serius karena menyangkut kelangsungan hidup organisasi.

Hasilnya? Inilah yang menarik. Posisi Rimond dikembalikan sebagai Ketua Koapgi untuk membenahi organisasi hingga selesai masa tugasnya. UU 25/1992 tetap dijadikan landasan hukum yang baru, sehingga Rimond dkk juga harus segera menyesuaikan AD/ART nya. Dengan keputusan ini, maka kepemimpinan Asep menjadi batal. Tapi Rimond memiliki tugas yang maha berat. Diantaranya, mesti mengundang pihak audit independen untuk meneliti laporan keuangan Koapgi yang dinilai mayoritas anggotanya belum transparan. Rimond pun menyanggupinya. Dipilihnya kembali Rimond karena ia merupakan hasil RAT KOAPGI ke XII yang sah pada April 2014.

Di saat pembenahan ini dilakukan, sangat disayangkan dijumpai sejumlah selebaran yang dibagikan ke anggota maupun SMS dari pihak tertentu yang terus memojokkan kepengurusan Rimond. Padahal, RAT Mei lalu sebagai keputusan tertinggi di Koapgi, sudah memutuskan Rimond untuk terus memimpin. Ironisnya lagi, informasi sepihak bernuansa fitnah itu disebarkan dalam suasana Ramadhan yang mestinya sama-sama dipelihara kesuciannya. Yang sedihnya lagi, provokasi atau hasutan tersebut justru diantaranya dibikin oleh oknum yang juga turut mendirikan Koapgi dahulu.

Melihat benang kusut yang melanda Koapgi ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa baik pengurus, pengawas juga seluruh anggota mendapat pelajaran berharga untuk sama-sama bercermin. Kesalahan maupun kesenjangan komunikasi yang telah terjadi sesamanya, harus segera dibenahi untuk maju bersama membenahi Koapgi. Semua pihak mesti menahan diri, saling koreksi, dan bersikap bijak agar Koapgi bisa kembali ke jalurnya.

Tantangan Koapgi kini dan kedepan justru harusnya dihadapi bersama. Karena tantangan kedepan adalah suasana perdagangan global dan Masyarakat Ekonomi ASEAN di mana serangan kekuatan capital asing akan masuk ke segala sektor kehidupan kita. Nah, jika Koapgi terus disibukkan hanya dengan konflik internal, bisa jadi eksistensinya akan tenggelam dan keharuman namanya tinggal kenangan. Tentu kita semua tidak ingin itu terjadi kan?

Rimond B. Sukandi, Ketua KOAPGI
“Tak Ada Masalah Yang Tak Dapat Diselesaikan…”

BAGI lelaki kelahiran Bandung, 21 Mei 1959 ini, bekerja adalah ibadah dan mengabdi. Itu sebabnya, prahara yang melanda tempatnya mengabdi, Koapgi, dinilainya sebagai sebuah dinamika yang memang harus dilalui. Bukan dihindari. Itu sebabnya, suami dari Ratih Dwiyanti yang bekerja sebagai pramugara PT Garuda Indonesia sejak 1983 dan pensiun Mei lalu, apapun pekerjaan yang dilakoni, harus dilakukan dengan penuh tanggungjawab.

Berikut ini sekilas petikan wawancara tim majalah Koapgi kepada Ketua Koapgi Rimond B. Sukandi:

T. Sebenarnya apa yang melatar belakangi kekisruhan di KOAPGI yang usianya sudah 14 tahun dan selama itu berkembang pesat?

J. Alhamdulillah KOAPGI berkembang pesat sampai dengan 14 tahun dan saya yakin akan lebih pesat lagi perkembangannya, dan masalah adanya kekisruhan di KOAPGI saat ini, saya kira di organisasi manapun yang dinamis dan menanamkan kebebasan bertanggung jawab tidak akan lepas dari sebuah kekisruhan, namun yang terpenting adalah bagaimana meminimalisir atau menyelesaikan kekisruhan tersebut dengan cara yang bijaksana, sehingga tidak ada yang terluka, kecuali orang yang berniat kurang baik atau caranya kurang tepat atau jalannya kurang lurus, mereka akan terluka.

Hemat saya yang melatar belakangi kekisruhan di KOAPGI adalah rasa cinta yang berlebih dan percaya diri yang berlebihan saat seseorang menjadi pemimpin, bahkan terus menerus menjadi seorang pimpinan, baik ketika menjadi Pengurus maupun Pengawas Koperasi. Atau mungkin juga karena belum pernah menjadi anggota atau bawahan, maka ketika realitas perubahan muncul diluar kemampuan manusia tentunya terasa menjadi kurang nyaman dan sulit menerimanya, sehingga diciptakanlah kondisi kekisruhan dengan melibatkan orang orang yang belum mengerti permasalahan yang sebenarnya.

Saya meyakini bahwa tidak ada masalah apapun yang tidak bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik dan kepala dingin. Kami harus mendahulukan kearifan bukan amarah, walaupun konsekuensinya adalah berkembangnya polemik di media sosial perusahaan tugas kita semua khususnya saya mengendalikan diri dan mengelola organisasi dengan berupaya menjaga harmonisasi antara Pengurus, Pengawas, Karyawan Koapgi, dan khususnya Anggota serta seluruh pihak terkait, terkecuali jika ada tindakan tindakan yang melanggar hukum, ya kita gunakan jalur hukum. jika tidak mau diurus atau dikelola akan terpisah sendiri dari golongan.

Saya dan Pengurus yang lain, meyakini bahwa KOAPGI akan berkembang lebih pesat karena kami memulai dari niat kami yang baik, untuk memberikan yang terbaik kepada anggota sebagai pemilik Koapgi melalui sarana informasi yang transparan dan hal inipun yang selalu kami kordinasikan dengan anggota yang mau membantu, serta kepada pihak Manajemen PT. Garuda Indonesia, sehingga langkah-langkah kami yang banyak kekurangan ini Insya Allah akan diridhoi oleh Allah SWT dengan ribuan bala tentara Nya. Sebuah keputusan tertinggidalam perkoperasian, yaitu Rapat AnggotaTahunan (RAT) KOAPGI ke XIII telah membuktikan semuaitu, kendatipun saya bukanlah penyelenggara acara RAT tersebut, namun Alhamdulillah mayoritas anggota yang hadir saat itu telah memberikan dukungan dan memutuskan saya untuk tetap melanjutkan kepengurusan Koapgi sampai dengan masa jabatan saya berakhir.

Sesungguhnya semua kekisruhan ini adalah sebuah dinamika organisasi yang sering kali terjadi pada beberapa koperasi, yang tentunya menjadikan pelajaran bagi kita semua dan tentunya membangkitkan rasa kepedulian yang tinggi terhadap Koperasi oleh seluruh anggota Koapgi, sebagai pemilik sekaligus pengguna jasa.

T. Anda secara sadar sudah membuat pernyataan mundur dari kepengurusan KOAPGI, lalu kenapa kembali lagi. Apa sebenarnya yang anda ingin kejar?

J. Secara Hukum, pengunduran diri itu dapat dikatakan benar dan syah jika telah diterima dan ditetapkan oleh anggota dalam Rapat Anggota, karena semua akan menyangkut pertanggung jawaban kerja saya secara menyeluruh dari mulai keuangan, aset, hutang piutang dan sebagainya yang terkait, apalagi saya dipilih oleh Anggota pada Rapat Anggota. Jadi ketika saya diminta menandatangani suratpengunduran diri (Feb 2015), ternyata saya diperdaya dan disiasati oleh oknum yang merasa kehilangan kekuasaan di Koperasi ini, sehingga dengan alasan ketidak percayaan pihak perbankan terhadap saya sebagai Pimpinan atau Ketua Koapgi yang akan memasuki masa pensiun di PT. Garuda Indonesia (Mei 2015). Bahkan saya dinyatakan telah melanggar aturan internal Koapgi (ADdanART) yang sebetulnya sudah dicabut oleh anggota pada RAT KoapgikeXIItanggal 14 Mei 2014 dan Koapgi menggunakan UU No 17 tahun 2012 yang pada saat itu masih berlaku secara hukum, sebelum akhirnya MK (Mahkamah Konstitusi) membatalkan UU No 17 tahun 2012 tersebut dan untuks ementara kembalike UU lama yaitu UU No 25 tahun 1996 tentangPerkoperasian.

Dengan perubahan tersebut, tidak serta merta kepengurusan harus berganti, karena kewenangan pergantian Pengurus dan penetapan AD/ART Koapgi berada di mahkamah tertinggi koperasi yaitu Rapat Anggota.

T. Pertanyaan anda mengenai apa yang sebenarnya ingin saya kejar ?

J. Saya dan Pengurus Koapgi lainnya, ingin berupaya mengejar ketertinggalan Koapgi dalam aspek tatakelola kelembagaan, termasuk legalitas Koapgi sebagai Badan Hukum yang perlu di update, karena selama 14 tahun telah“terlupakan” oleh pesatnya laju perkembangan Koapgi, sehingga perlu keseimbangan melalui penyempurnaan peraturan yang tidak menyimpang dari ketentuan dan peraturan yang ada dalam UU Perkoperasian yang berlaku. Kami ingin memberikan yang terbaik bagi anggota Koapgi dan para pihak terkait, serta dapat meningkatkan Sisa Hasil Usaha (SHU) untuk anggota KOAPGI secara adil dan proporsional, amiinn..

T. Setelah RAT XIII, KOAPGI kembali mengamanatkan anda untuk menuntaskan masa bakti anda sampai selesai di tahun buku 2016. Prioritas Utama yang harus dibenahi agar KOAPGI tumbuh kian pesat lagi kedepan dalam jangka waktu yang sempit ini?

J. Insya Allah dengan segala kekurangan yang ada, saya akan benar-benar memanfaatkan waktu yang tersedia untuk mempersiapkan perencanaan dan pelaksanaan usaha yang transparan, agar anggota mendapatkan informasi yang akurat serta menikmati layanan yang prima dari karyawan Koapgi.

Kami sedang menata keanggotaan dan mengidentifikasi semua data asset Koapgi yang tidak kami pegang sampai saat ini, serta data data usaha Koapgi yang ada selama ini. Kami juga sedang membangun system kinerja organisasi, termasuk menset up kembali sistem keuangan dan system layanan simpan pinjam yang nantinya akan lebih memudahkan setiap anggota untuk mengakses informasi serta datanya masing-masing yang ada di Koapgi.

Prioritas Utama yang harus kami lakukan adalah menjalin kerja sama yang baik dengan pihak perbankan, yang Alhamdulillah berjalan baik dan masih menunggu progresnya. Semua akan kami benahi agar KOAPGI tumbuh kian pesat lagi kedepannya dengan melakukan keseimbangan dalam mengelola hal-hal internal dan eksternal yaitu Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha secara bertahap dan terpadu.

T. Apa tantangan terbesar KOAPGI? Terutama memasuki persaingan global dengan pelaku usaha lainnya yang sudah mapan?

J. Tantangan terbesar KOAPGI adalah masalah Man Power dan Karakter, tapi itu bisa dilatih dibiasakan dan dipelajari serta diamalkan baik diinternal KOAPGI maupun dieksternal dalam persaingan global dengan pelaku usaha lainnya. Kuncinya adalah dalam Update Ilmu, Iman dan Amal serta menempatkan seseorang (Man Power) sesuai ahlinya. Melakukan transfer knowledge perkoperasian kepada anggota, agar anggota setidaknya memahami kegiatan koperasi yang dimilikinya.

T. Kita Tahu, core business KOAPGI adalah simpan pinjam, apakah ini akan menjadi andalan utama KOAPGI seterusnya atau ada strategi bisnis lain yang mau dikedepankan agar dapat memberi layanan terbaik bagi anggotanya?

J. Ya , tentu saja dalam rangka memberi layanan atau service prima bagi anggota KOAPGI, tidak cukup hanya mengutamakan simpan pinjam saja, tapi Pengurus KOAPGI sekarang akan berusaha melayani segala kebutuhan penting anggota di koperasi “One Stop Shopping” bagi anggota khususnya dan masyarakat pada umumnya. Tentu Secara bertahap mulai dari kebutuhan Primer, sekunder, tersier, mulai dari Sandang Pangan Papan dan Pendidikan serta Sosial Ekonomi. Contohnya Kesehatan, Umroh dan Haji, Pengembangan bisnis atau membangun jiwa wirausaha bagi karyawan dan purnawirawan Insya Allah siap kami layani, Semuanya akan dilakukan bertahap berkelanjutan .