• (021) 5507205

logo

Gurihnya Koperasi Awak Garuda Indonesia, Ketua Dilengserkan

Kisruh yang melanda tubuh Koperasi Awak Pesawat Garuda Indonesia (KOAPGI), ternyata kian melebar ke mana-mana. Dewan Pengawas KOAPGI, Away A. Waluya memecat Ketuanya, Rimond B. Sukandi secara sepihak dengan alasan pemberlakukan UU No. 25/1992 tentang Koperasi. Bukan melalui Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai forum tertinggi.


Namun, Rimond melawan melalui jalur legal, yakni diselenggarakan RAT pada Mei 2015 lalu untuk menentukan siapa yang sah meneruskan kepengurusan hingga 2016. Ternyata, hasil RAT tersebut, mayoritas anggota masih mempercayakan Rimond untuk melanjutkan kepengurusan hingga selesai.

“Saya tidak pernah membayangkan orang-orang yang selama ini berteman baik, telah memulai menjadi pemicu permasalahan ini. Saya juga tidak membayangkan bahwa persoalan yang sederhana ini menjadi rumit,” ujar Rimond, Ketua Koperasi Awak Pesawat Garuda Indonesia, melalui pesan tertulis, Jumat (5/2).

Rimond tidak mengerti kenapa Asep AW yang dipercayakan mengawal keuangan selaku Bendahara KOAPGI, ternyata berkonspirasi dengan Away Waluya dan mendesaknya untuk menandatangani Surat Pengunduran Diri, serta mengambil alih kedudukannya selaku Ketua KOAPGI. Pemberhentian sebagai ketua hanya melalui pengurus KOAPGI.

KOAPGI, yang berdiri sejak 2000, mulanya berkembang pesat secara bertahap dengan usaha utamanya adalah simpan pinjam. Seiring dengan perkembangan dan pesatnya kemajuan yang dicapai, KOAPGI dilirik banyak rekanan salah satunya adalah perbankan.

Away, salah satu pendiri sekaligus Ketua KOAPGI yang baru berakhir masa jabatannya pada 2014 lalu, saat RAT, mulanya seperti “belum rela” untuk melepaskan masa kepemimpinannya selama empat belas tahun. Namun, di RAT 2014, akhirnya mayoritas anggota memilih Rimond, yang saat itu sebagai Wakil Sekretaris (Sekretaris II) untuk menggantikannya sebagai Ketua hingga 2016. Sementara Away hanya sebagai Ketua Dewan Pengawas.

Namun baru beberapa bulan Rimond menjalankan roda kegiatan KOAPGI, masalah pun datang. Posisi Rimond sebagai ketua dipermasalahkan karena diberlakukannya UU No. 25/1992 tentang Koperasi oleh Mahkamah konstitusi menggantikan UU No. 17 tahun yang sama. Intinya, dalam UU yang diberlakukan itu, pengurus koperasi adalah yang masih berstatus karyawan di perusahaannya (dalam hal ini Garuda Indonesia) minimal tiga tahun sebelum pensiun. Padahal, pada 2015, Rimond sudah memasuki masa pensiun.

Away yang bertindak sebagai Dewan Pengawas, ternyata menyelesaikan masalah yang dihadapi pengurus tersebut hanya dengan serta merta mengganti Rimond dan Sekretarisnya Koesadar Wirasamtika melalui sebuah rapat terbatas pada Februari 2015. Mestinya, diadakan kembali forum tertinggi RAT Mei 2015 untuk menentukan bagaimana kepengurusan KOAPGI. Karena melalui RAT, mayoritas anggota koperasi akan memahami masalah yang sebenarnya. Bukan hanya segelintir pengurus.

Jadilah masalah meruncing. Rimond, yang semula “rela” melepas jabatannya, akhirnya melawan karena dicopot tak sesuai dengan aturan yang berlaku. Perlawanan Rimond melalui jalur legal, yakni diselenggarakan RAT pada Mei 2015 untuk menentukan siapa yang sah meneruskan kepengurusan hingga 2016. Ternyata, hasil RAT tersebut, mayoritas anggota masih mempercayakan Rimond untuk melanjutkan kepengurusan hingga selesai.